Bakterisidin dapat mencapai kadar maksimum dalam waktu satu sampai dua hari

Patut dicatat bahwa timus bersifat limfoid pada ikan-ikan bertulang dan bertulang rawan, tetapi pada ikan belut besar tidak ada indikasi jelas akan adanya timus limfoid meskipun telah dikenal alat tubuh epitelial primitif. Sedemikian jauh belum ada bukti pasti akan adanya jaringan timus pada ikan “hag” meskipun suatu sel bulat kecil dengan sitoplasma basofilik yang tipis di bagian pinggirnya Akhir-akhir ini telah menjadi jelas bahwa bakterisidin dapat dibentuk dalam darah-cairan getah bening spesies seperti misalnya udang karang melalui infeksi dengan pelbagai kuman gram-negarif dan gram-positif. Bakterisidin ini memiliki realktivitas iuas karena dapat mematikan kuman yang antigenik tidak ada hubungan dengan kuman pencetus pembentukan bakterisidin tersebut; penentuan sifat molekul-molekul ini untuk melihat apakah ada hubungan dengan imunoglobulin binatang bertulang belakang sedang ditunggu dengan penuh perhatian jual obat diabetes

sitoplasmaSehubungan dengan reaksi-reaksi imun yang terjadi melalui sel, ada laporan sekarang bahwa cacing tanah dapat menimbulkan kekebalan pencangkokan terhadap jaringan-jaringan dari spesies yang sama atau berlainan, sambil tetap menerima pencangkokan sendiri (yaitu pencangkokan jaringan sendiri). Suatu pengertian sifat respons selular dan respons humoral ini jelas akan memberikan pengertian apakah reaksi selular benar-benar merupakan yang paling primitif dalam pengertian evolusioner. Semua binatang bertulang punggung sanggup mengadakan respons imunologik pada waktu dirangsang antigen. Responsrespons dari sel-sel-B dan-T dapat ditimbulkan sampai pada binatang bertulang punggung yang paling rendah, ikan “hag” dari Kalifornia.

Siklostoma yang tidak menyenangkan ini (yang memangsa ikan yang hampir mati dengan memasuki mulutnya dan memakan daging dari dalam) mula-mula dianggap “tidak ada gunanya bagi filogeni kekebalan”, karena berlainan dari ikan belut besar, suatu siklostoma yang lebih maju, ikan ini rupanya tidak sanggup untuk bereaksi secara imunologik. Ternyata sekarang bahwa ikan “hag” dapat menibuat antibodi terhadap hemosianin dan menolak pencangkokan dari binatang sejenis, dengan syarat bahwa ikan tersebut hidup pada suhu kira-kira 20 (pada umumnya poikiloterm membuat antibodi lebih baik dari pada suhu lebih tinggi). Antibodi-antibodi terdapat pada suatu fraksi makroglobulin 289 tetapi pada ikan-ikan yang lebih tinggi tempatnya pada tangga evolusi sekarang telah ditemukan imunoglobulin 185 dan 75 dengan rantai-rantai berat dan ringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *