Reaksi anafilaksis pada kulit yang terjadi akan menimbulkan pelepasan zat-zat amina vasoaktif

Sebagai contoh larutan encer serum marmot yang mengandung antibodi y1-globulin disuntikkan pada kulit binatang normal yang kemudian diikuti suntikan antigen dengan zat wana seperti Evans’ Blue intravena. Degranulasi mastosit terjadi bila antibodi homositotropik dihubungkan satu sama lain oleh satu antigen spesifik (Gambar 6.1) atau oleh antiimunoglobulin bervalensi dua yang sesuai (misalnya anti-IgE atau antir;tai pendek imunoglibuliti); anti-igE yang bervalensi satu (Fab) tidak akan menyebabkan degranulasi. Reaksi hubungan satu sama lain tersebut merangsang suatu isyarat pada membran yang mengakibatkan pemasukan ion-ion kalsium dan perubahan-perubahan pada tahap-tahap nukleotida siklik. Penurunan dalam siklik-AMP (cAMP) atau kenaikan siklik-GMP (cGMP)  menyokong degranulasi, oleh karena konstrasi tinggi cAMP menstabilkan granula-granula mastosit. pengaruh daii pelbagai hormon dan obat-obatan pada pengendalian pelepasan zat perantara oleh nukleotida-nukleotida siklik disimpulkan pada Gambar 6.9.

ALERGI ATOPIK

anafilaksisHampir 10 persen populasi menderita alergi tingkat berat sampai ringan termasuk reaksi-reaksi anafilaktik lokal terhadap alergen ekstrinsik seperti tepung sari rumput-rumputan bulu-bulu tungau-tungau pada debu rumah, dan sebagainya. Kontak antara alergen dengan IgE yang terikat pada sel di labang bronki, selaput lendir hidung dan selaput lendir mata melepaskan zat-zat perantara anafilaksis yang antara lain menyebabkan gejala-gejala seperti asma dan hay fever (demam yang disebabkan kepekaan terhadap rumput kering). Nilai kenikmatan dari makanan tertentu seperti strawberry pada orang-orang yang peka dapat menyebabkan urtikaria yang tersebar di seluruh tubuh, hal ini disebabkan oleh reaksi pada kulit terhadap bahan-bahan yang diserap dari usus masuk ke pembuluh darah.

Anafilaksis akut walaupun jarang dapat timbul pada orang-orang yang sangat peka setelah suatu sengatan serangga atau suntikan penisilin atau prokain. Kepekaan umumnya dinilai dari hasil percobaan kulit terhadap antigen. Pelepasan histamin dan zat-zat perantara lain cepat menimbulkan kemerahan dan benjolan (Gambar 6.14a), yang mencapai maksimal dalam 30 menit dan kemudian menyusut. Kemampuan antibodi IgE dapat diperlihatkan dengan penyundkan serum penderita yang peka pada kulit manusia normal (percobaan Prausnitz-Kustner atau’P-K’) atau lebih baik bila kita gunakan kera. Sensitisasi pasif kulit manusia ini dapat dihambat lebih baik bila sebelumnya disuntikkan mieloma ISE dibandingkan dengan kelas-kelas imunoglobulin lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *