Keistimewaan Sriti Kembang Dibanding Burung Lainnya

Keistimewaan sriti kembang

Di lingkungan pembudidayaan walet, kehadiran sriti kembang memang merupakan jenis burung baru. Walaupun baru, harus diakui kehadirannya sangat bermanfaat karena setidaknya memiliki sepuluh keistimewaaan sebagai berikut.

Mudah beradaptasi
Sriti kembang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, jenis makanan, dan pola makan. Ini dapat dibuktikan dengan cara memberi makanan berupa kroto pada burung yang dikurung dalam ruangan sempit berukuran 3 m x 3 m. Dalam waktu kurang dari sehari burung ini akan mulai belajar mematuk makanan tersebut.

Tidak mudah mati
Bila penangkapannya tidak membuat luka, sriti kembang dijamin tidak bakal mati. Umumnya penangkapan burung ini menggunakan lem perekat [pulut Jawa). Meskipun tidak melukai fisik burung, tetapi cara tangkap dengan lem akan merusakkan sayap burung sehingga kurang berfungsi maksimal untuk terbang. Bila ini terjadi, proses adaptasi dapat terganggu atau terhambat. Mungkin saja burung tidak sampai mati, tetapi kesehatannya selama adaptasi akan terganggu.

Tidak mudah stres
Sriti kembang tidak mudah stres sehingga proses adaptasi menjadi relatif cepat dan mudah. Bila proses adaptasi sudah berhasil, burung ini akan tahan dalam perjalanan ratusan kilometer dan kesehatannya tetap terjaga. Walaupun sangkarnya kecil (ukuran 40 cm x 50 cm) saat membawa burung menempuh perjalanan jauh, tetap saja burung tidak stres asalkan sekeliling sangkar ditutup dengan kertas koran.

Cepat berkembang biak
Secara alamiah, sriti kembang mudah berkembang biak dalam ruangan terbatas. Ruangan berukuran 3 m x 3 m pun sudah cukup untuk memelihara tiga pasang sriti kembang. Bila perawatannya terjamin maka sedikitnya hanya enam bulan sriti kembang sudah mulai bertelur.

Mengenali warna
Sriti kembang cukup baik dalam hal pengenalan warna tertentu. Tentu saja warna yang dikenali adalah warna yang paling sering dilihat burung. Ini dapat dibuktikan dengan cara penggunaan tempat makanan (tampah). Misalnya, tampah yang digunakan sudah dicat merah. Tampah ini selalu digunakan hingga sekitar sebulan. Setelah itu, burung dipindahkan ke ruangan lain yang sudah diberi tiga tampah dengan warna berbeda, yaitu merah, biru, dan hijau. Ketiganya sudah diberi makanan. Apa yang terjadi? Temyata burung hanya bertengger pada bibir tampah warna merah. Kemudian pindahkan burung ini ke ruangan lain yang juga sudah diberi tiga tampah dengan warna merah, biru, dan hijau. Tampah biru dan hijau diberi makanan, sedangkan

cat putih di sekeliling pintu akan membantu memori sriti kembang untuk mengenali pintu masuk tampah merah tidak diberi makanan. Apa yang terjadi? Burung tetap saja bertengger pada bibir tampah merah walaupun tidak ada makanannya.

Mudah jinak
Di alam bebas, sriti kembang tergolong burung liar dan sulit ditangkap. Dengan gerakan terbang yang cepat, gesit, dan lincah serta mata yang tajam sehingga cukup awas membuat sriti kembang sulit ditangkap. Namun, bila berhasil ditangkap, hanya seminggu burung ini akan menjadi jinak. Mudah jinak. Oleh karena terbiasa maka sriti kembang tidak lagi takut dengan manusia.

Mengenaii suara
Selain mengenaii warna, sriti kembang pun dapat mengenaii suara-suara tertentu. Untuk itu, burung ini dapat dilatih mengenal suara khusus sesuai keinginan peternak, misalnya suara siulan. Bila ada suara siulan, burung yang sudah mengenal suara tersebut akan beterbangan mencari sumber suara. Agar burung dapat mengenaii suara siulan, perlu dilatih terutama saat pemberian makanan. Irama siulan yang didengarkan hams tetap, tidak berubah-ubah. Hal ini hams terus dilakukan berulang selama sekitar satu minggu.

Sebagai aset hidup
Meskipun suaranya tidak sama dengan suara walet atau sriti, namun keberadaan sriti kembang di dalam ruang penangkaran dapat berfungsi sebagai “burung pemanggil”. Yang dipanggil hanyalah burung sejenis yang beterbangan di sekitar gedung, di antaranya walet, sriti, dan sriti kembang. Hal ini oleh penulis diistilahkan sebagai kaset hidup. Tinggi rendah volume suara akan diatur secara otomatis oleh burung itu sendiri. Suara tersebut merupakan alat komunikasi yang khas antara walet, sriti, dan seriti kembang, apalagi suara piyik. Adanya suara piyik seriti kembang maka secara naluri akan menyebabkan walet atau sriti yang melintas di sekitar gedung mendekati suara dan ingin bergabung di dalamnya. Tidak sedikit peternak berhasil memancing walet atau sriti dengan menggunakan aset hidup ini.

Sebagai induk angkat
Perilaku sriti kembang saat berkembang biak tidak berbeda dengan walet atau sriti, yaitu akan setia mengerami telurnya dan menyuapi piyik setelah menetas. Perilaku inilah yang dimanfaatkan untuk mulai menernakkan walet. Saat sriti kembang bertelur, telurnya segera digantikan dengan telur walet. Sementara saat menetas, sriti kembang akan menjadi induk angkat dari telur walet yang dieraminya. Bila saat sriti kembang sudah bertelur, letapi telurnya digantikan dengan piyik walet, tetap saja burung ini mengganggap piyik walet sebagai anaknya dan mau menyuapinya.

Mesin populasi
Dinamakan mesin populasi bukan berarti cara penetasan telur burung sriti kembang hanya bisa dilakukan dengan mesin seperti¬† mesin tetas telur puyuh. Hal ini lebih dikarenakan burung sriti kembang bertelur hingga lima butir, tidak seperti walet atau sriti yang hanya sepasang. Dengan demikian, pertambahan populasi sriti kembang pun akan lebih cepat dibanding walet atau sriti. Keistimewaan inilah yang dapat digunakan untuk proses “putar telur”. Seandainya ada 20 pasang sriti kembang dan semuanya bertelur pada saat bersamaan maka ads sekitar 100 telur walet yang dapat digantikan dengan telur sriti kembang. Lain hainya kalau menggunakan induk walet atau sriti, tentu hanya 40 butir telur saja yang dapat digantikan pada 20 pasang induk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *