Mengenal Sriti Kembang

sriti kembang

Selama ini sriti kembang kalah populer dibanding walet maupun burung sriti. Ini disebabkan sriti kembang dianggap tidak bermanfaat. Sarangnya hanya terbuat dari rumput yang dilapisi lumpur sehingga tidak ekonomis.
Sriti kembang termasuk famili Hirudinidae atau Hirundo karena memiliki kaki relatif lebih kuat sehingga mampu berdiri atau bertengger.

Dalam bahasa Inggris, sriti kembang disebut swallow. Sementara walet dan sriti termasuk famili Apodidae karena berkaki lemah. Kaki walet dan seriti tidak dapat digunakan untuk berdiri. Itulah sebabnya walet dan sriti hanya mampu menempelkan atau menggantungkah tubuhnya. Sriti kembang hampir terdapat di seluruh nusantara. Seperti halnya walet dan sriti, cara makan seriti kembang pun menyambar serangga terbang.

Nama sriti kembang sebenarnya diberikan penulis karena selama ini tidak memiliki nama. Ini disebabkan burung ini dianggap tidak bernilai, tidak berfungsi, atau tidak bermanfaat. Dalam berbagai buku tentang sriti dan walet, nama sriti kembang tidak pernah dibahas.

Kalaupun ada, pembahasannya hanya sekilas. Penyebabnya, fokus bahasan hanya pada burung walet dan burung sriti yang dinilai ekonomis. Burung ini disebut seriti kembang karena warna di setiap helai bulu ekornya terdapat bulatan putih. Selain itu, warna bulunya lebih variatif dibanding walet atau sriti. Bulu tubuh hitam kebiruan serta dahi merah bata.

Burung ini dapat berkembang biak dalam ruang terbatas karena kekuatan kakinya menyebabkannya dapat bertengger dan memudahkannya mengubah cara makan. Di habitat aslinya, sriti kembang menyantap serangga terbang dengan cara menyambar. Namun, di ruang terbatas atau terkurung, burung ini dapat berdiri serta mudah mengubah cara makan dan jenis makanannya, yaitu dapat mematuk kroto atau ulat hongkong. Itulah sebabnya burung ini dapat berkembang biak di tempat terbatas asalkan perawatannya terjamin dan hidup berpasangan.
Jenis sriti kembang.

Dari pengetahuan penulis, di Indonesia terdapat dua jenis sriti kembang, yaitu sriti kembang berkalung dan sriti kembang tidak berkalung.

Sriti kembang berkalung
Sriti kembang berkalung (Hirundo rustica) bertubuh sekitar 17 cm dari ekor hingga paruh. Ekornya bercagak dan ujung sayapnya runcing. Selain ujung bulu ekor berbulatan putih, tubuhnya didominasi wama hitam kebiruan. Sementara warna dahi merah bata, leher berkalung hitam, dan dada putih.

Tubuh sriti kembang berkalung. Warna bulunya biru kehitaman dan di lehernya seperti berkalung hitam

Bulu dada dan dagu sriti kembang. Warnanya merah bata. Burung ini bersarang di bawah jembatan, gua, lercng bebatuan, atau terkadang rumah penduduk. Sarangnya terdiri dari rerumputan kering dilapisi lumpur tanah sebagai perekat. Burung ini tidak mengeluarkan air liur.

Dalam satu periode bertelur, jumlah telurnya dapat mencapai lima butir. Warna telur putih bebercak cokelat muda seperti telur puyuh atau burung gereja. Ukuran telur hampir sama dengan telur sriti. Makanannya diperoleh dari habitat asli, yaitu di aliran sungai, sawah, muara, sampah, dan pepohonan. Di peternakan ayam, sering terlihat seriti kembang lalu lalang menyambar serangga terbang.

Burung ini terbang sangat gesit. Kepak sayapnya berbeda dengan kepak sayap sriti atau walet. Kepak sayap seriti dan walet sering tampak terbentang, sedangkan sriti kembang tidak pernah terbentang. Burung ini sering kedapatan bertengger di antena TV, kabel listrik, dan kabel telepon sebagai upaya istirahat setelah lelah terbang mencari makanan. Seriti kembang terbang mirip seperti kepak merpati balap (ngeclap. Jawa).

Sriti kembang tidak berkalung
Dibanding sriti kembang berkalung, sriti kembang tidak berkalung (Hirundo javanica) ini lebih kecil, hanya sekitar 13 cm diukur dari ujung ekor hingga paruh. Bulunya didominasi wama hitam kebiruan. Dahi berbulu merah bata dan kerongkongan cokelat. Bulu di dada cokelat muda. Ekor tidak bercagak dan sayap tidak runcing.

Tempat bersarangnya. di bawah jembatan, ruffian penduduk, dan gua alam. Sarangnya tersusun dari rerumputan yang terkadangdilapisi lumpur tanah. Ada juga sarang yang tidak menggunakan lumpur tanah sebagai perekat sehingga mirip sarang burung gereja atau burung pipit. Telurnya berjumlah 2-5 butir dengan warna dan ukuran seperti telur sriti kembang berkalung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *