Penentu-penentu yang mengaktifkan limfosit

leu_l_aReaksi pencampuran limfosit (RPL). Bila limfosit-limfosit yang berasal dari tikus-tikus yang mempunyai susunan genetik tidak sama ditanamkan pada perbenihan bersama-sama maka akan terjadi perubahan sel ke bentuk blas dan mitosis (RPL), tiap kelompok limfosit dapat bereaksi dengan determinan “asing” pada permukaan kelompok limfosit lainnya. Penentu-penentu pengaktif limfosit ini kebanyakan didapatkan pada sel-sel-B sedang sel sisanya terutama terdiri dari limfosit-limfosit-T yang Ly.I positif. Untuk RPL searah, sel-sel perangsang dibuat menjadi tidak bereaksi dengan cara mengolah dengan mitomisin C arau sinar-X dan kemudian dicampurkan obat herbal kencing manis pada limfosit-limfosit dari donor lain yang akan dirangsang.

Penentu-penentu perangsang limfosit bukan H-2D atau H.2K yang ditentukan secara serologik tetapi gen-gen yang menyusun terletak pada daerah I yang letaknya sangat dekat dengan peta lokus H-2K demikian rupa sehingga H-2K/D dan gen-gen determinan pengaktif limfosit pada pemberian kromosom cenderung diwariskan sebagai satu golongan untaian tunggal. Serum-anti terhadap anrigen daerah I (anti-Ia) menghalangi penentu perangsang limfosit dari sel-sel perangsang dan karena itu menghambat RPL. Limfolisa perdntaraan sel (LPS). Hubungan determinan perangsang limfosit pada pencetusan reaksi penolakan cangkokan, telah diarahkan pada beberapa fokus oleh adanya penemuan-penemuan fenomena. Limfolisa perutntdrarm sel (LPS) yang telah berkembang sebagai satu cara pemeriksaan histokompatibilitas intinya seperti yang terlukis pada Gambar 8.5 secara singkat, bila limfosit-limfosit donor X bereaksi dengan Y secara searah pada perbenihan campuran limfosit karena adanya perbedaan determinan perangsang limfosit, limfoblas yang terbentuk bersifat sitotoksik bagi sel-sel-Y karena adanya ketidaksesuaian H-2K dan D antar-mereka.

Pada keadaan di mana H-2K dan D tidak berhubungan tetapi merupakan galur-galur yang cocok, terjadi RPL tetapi sel yang dihasilkan tidak bersifat sitotoksik bagi jenis lain dari pasangan itu. Sebagian kelompok sel-T sitotoksik yang diketahui, perbedaan pada reaksi H -zK/D tidak sama seperti pada reaksi terhadap determinan-determinan perangsang limfosit. Meskipun demikian, mereka hanya berdiferensiasi menjadi efektor-efektor sitotoksik dengan adanya bantuan dari suatu reaksi terhadap determinan-determinan perangsang limfosit; dengan kata lain, sel-sel penolong-T mengetahui adanya pembentukan determinan- determinan perangsang limfosit, yang dibutuhkan sebagai pencetus yang kuat bagi determinan-determinan H-2K/D (Gambar 8.s). Reaksi antara cangkokan laann tuan rumah (ch).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *